1000-KM Luggages
Ini kisah saya pas berangkat ke Bandung beberapa bulan yang lalu. Saya lupa tanggal pastinya, yang jelas terjadi sekitar bulan Agustus 2007. Sudah cukup lama memang. Tapi cukup worthwhile buat di-share.
Waktu itu saya merencanakan berangkat dengan penerbangan ke Jakarta dan disambung perjalanan darat menuju Bandung seperti biasa. Tiket AirAsia sudah di tangan, dan saya pun siap berangkat. Pagi itu, saya agak telat bangun. Sebenernya bukan telat sih, tapi memang tidak bisa dikatakan tepat pada waktunya. Pesawat take-off jam 8.30 pagi, dan saya baru bangun jam 6.00. Untuk mandi dan berkemas saya membutuhkan waktu sekitar 1 jam, jadi saya berangkat sekitar jam 7.00. Saya nyantai aja waktu itu, karena saya pikir jam segitu bukan rush hour, dan saya menargetkan jam 7.20 sampai bandara.
Ternyata ada sedikit kemacetan dan antrian di gerbang masuk bandara, dan saya baru berhasil menjejakkan kaki di bandara jam 7.30. Yang saya lihat waktu itu, selain keramaian, adalah wajah 4 teman saya yang cemberut karena kelamaan nunggu (sebenarnya, teman saya hanya 2, dan 2 lainnya itu adalah teman dari 2 teman saya itu. Bingung?).. Ya, kami akan berangkat bareng ke jakarta naik pesawat yang sama. Jangan heran kenapa mereka begitu setia nungguin saya di depan pintu masuk. Tiket AirAsia, yang hanya 1 lembar print-out untuk rame-rame, saya yang pegang. Jadi, mau nggak mau, mereka harus nungguin saya. Kejam ya? Tapi waktu itu lamanya kedatangan saya gak dibuat-buat. Berani sumpah kebanjiran duit semua itu di luar perkiraan.
Setelah teman-teman saya itu menghabiskan omelannya terhadap saya, kami pun masuk untuk melakukan check-in. Pas lagi ngurusin masalah check-in sama mbak-mbak yang ada di situ, tiba-tiba datang seorang cowok gendut membawa HT. Kayaknya dia pegawai AirAsia juga. Dia bilang ke rombongan kami bahwa bagasi pesawat sudah ditutup, dan mereka hanya menerima penumpang untuk dinaikkan ke pesawat, tapi tidak untuk bagasi. Kami jadi bingung, masa’ kami berangkat tapi bagasi ditinggal? Si cowok tadi menyarankan untuk menitipkan bagasi kami di counter AirAsia bandara, dan akan diberangkatkan bersama pesawat sore. Waduh, pertama kali saya terbang dengan bagasi ‘menyusul’. Sebenernya waktu itu saya hanya membawa 2 tas: 1 koper dan 1 sport bag. Hal ini memungkinkan saya untuk tidak memasukkannya sebagai bagasi dan membawanya ke kabin. Tapi, selesai check-in teman-teman saya keburu nyelonong ke counter AirAsia terdekat untuk menitipkan bagasi mereka itu. Setelah berbicara sebentar dengan petugas di sana, dan yakin bahwa bagasi kami akan nyampai jakarta sore nanti, mereka pun (termasuk saya) meletakkan bagasi di counter dan langsung naik ke ruang tunggu. Ketika masuk ke ruang tunggu, ternyata penumpang AirAsia langsung dipanggil untuk boarding. Saya ingat sekali, waktu itu jam di hape saya menunjukkan pukul 8.00. Ya ampun, setengah jam sebelum take-off sudah boarding? Biasanya AirAsia telat, kenapa sekarang jadi cepet gini. Akhirnya, ya sudah lah, dengan berbekal 1 sport bag di tangan, saya ikut teman-teman boarding ke atas pesawat. Tampang mereka masih cemberut, mungkin gak kuat menerima kenyataan berangkat ‘lebih dahulu’ daripada bagasinya. Dan ternyata feeling saya benar, kami memang tidak menunggu di ruang tunggu, tapi menunggu di atas kabin. Saya merasa lama sekali waktu berjalan antara saya masuk pesawat dan pesawat tersebut take-off. Dan sayangnya saya gak liat jam waktu itu, jadi saya gak bisa mengklaim waktu take-off yang sebenarnya..
Setelah 1,5 jam lebih penerbangan tanpa masalah, kami pun tiba di cengkareng. Turun pesawat, kami langsung ke counter yang menangani pengurusan bagasi. Saya gak terlalu tau detail masalah ini, yang jelas menurut salah satu temen saya, kami bisa ngambil bagasi itu pas kedatangan AirAsia jam 5 sore. Waktu itu jam menunjukkan pukul 10 pagi lewat dikit. Gak kebayang apa yang bakal kami lakukan di bandara selama 7 jam menunggu bagasi kami yang ketinggalan sejauh hampir 1000 kilometer.
Kalo saya gak salah ingat, yang pertama kami lakukan ketika keluar dari ruang klaim bagasi adalah membeli tiket bis primajasa tujuan bandung. Kemudian kami mencari restoran untuk mengisi perut. Kami di restoran itu kurang lebih 3 jam, sekedar duduk-duduk ngobrol menghabiskan waktu. Kemudian kami berpindah ke emperan (jelek amat kata yang dipake) bandara, lagi-lagi untuk ngobrol dan duduk-duduk. Menjelang sore, kami masuk lagi ke restoran itu karena lapar dan berniat menghabiskan waktu.
Sekitar jam 5 sore kami melihat layar monitor tempat biasa menampilkan jadwal kedatangan. Namun kami belum melihat keterangan AirAsia dari pekanbaru. Jangankan jadwal kedatangan, secuil keterangan pun gak ada. Kami pun mengutus beberapa di antara kami untuk masuk ke ruang klaim bagasi untuk menunggu di sana. Sekian lama pesawat itu belum nyampai juga. Dan akhirnya sekitar setengah 7 malam bagasi baru kami dapatkan. Kami pun harus berlari-lari ke tempat bis primajasa itu karena tiket kami adalah tiket jam 7. Perasaan lega, capek, dan kesal bercampur jadi 1 ketika kami akhirnya berhasil duduk di bangku bis tersebut. Saya masih berpikir, ini semua kesalahan saya yang datang ‘tidak terlalu cepat’, atau mas-mas tukang bagasi yang terlalu perfeksionis sehingga kami gak boleh memasukkan bagasi kami karena ‘tidak tepat waktu’, atau pesawat kami yang berangkatnya kepagian, atau pesawat sore yang nyampenya kesorean.. Atau tiga hal itu punya andil dalam kejadian ini.. I’m sorry guys..

delete
[spoiler=delete>delete[/spoiler]